Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
News

Cerita Pengungsian di Maumere Akibat Letusan Rokatenda, NTT

Cerita Pengungsian di Maumere Akibat Letusan Rokatenda, NTT

Nilai pelajaran lebih baik dari sebelum tinggal di pengungsian. Ini adalah pernyataan salah satu anak yang berada di pengungsian Transito (Maumere). Mereka merasa senang tinggal di camp pengungsian Transito (di kota Maumere). Anak-anak merasa senang karena bisa berkumpul bersama dalam kegiatan bermain dan belajar. Hal ini terbukti dari nilai-nilai rapor sekolah yang lebih bagus dibandingkan pada saat sebelum menjadi pengungsi. Belajar bersama ternyata membawa nilai positif buat anak-anak karena membangun kebersamaan dan memacu nilai pelajaran mereka.

Hal ini kontra dengan orang dewasa, mereka ingin lebih cepat tidak tinggal di pengungsian karena banyak keterbatasan dan sangat tergantung pada bantuan. Mereka ingin cepat mandiri dan tinggal di rumah sendiri. Hal ini juga dirasakan oleh pengungsi yang menumpang dengan saudaranya. Keinginan mereka bisa cepat jika pemerintah Daerah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka cepat bergerak karena dana sudah diperoleh dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) telah mengalokasikan dana sejumlah 6.6 M untuk relokasi dan penghidupan para pengungsi di Kabupaten Ende yang berjumlah 407 KK (kepala keluarga). Sementara Kabupaten Sikka mengelola dana 6,5 M bagi 375 KK (kepala keluarga) dialokasikan untuk kegiatan relokasi dan penghidupan para pengungsi.

Siapa yang betah tinggal di pengungsian? Tidak ada yang mau tinggal dalam jangka lama di pengungsian. Para pengungsi yang dewasa di Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka, sudah tinggal sekitar 9 bulan dari Oktober 2012 – Juli 2013. Jumlah pengungsi dari Pulau Palue adalah sejumlah 3.875 Jiwa dari 4 desa Mereka tersebar di 2 kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka dan terbagi dalam 3 kelompok, yaitu tinggal di kamp pengungsian baik di Maumere maupun di Pulau Palue sendiri. Sementara yang menumpang di saudara keluarga prosentasenya terbesar yaitu sejumlah 60%. Sebagian kecil yang lain sudah tinggal di rumah sementara di lokasi yang disediakan oleh tetua adat dengan bantuan material bangunan berupa terpal, seng dan paku dari beberapa donor.

Pembangunan rumah sementara ini untuk menjaga privasi setiap keluarga dan menghindari konflik. Hal ini dikarenakan belum ada informasi tentang tenggat waktu pengungsian. Bahkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan bahwa pulau tersebut memang tidak layak untuk dihuni sehingga semua harus harus di relokasi. Hal ini dikarenakan ada kemungkinan letusan yang skalanya lebih besar. Pulau Palue sendiri, sebenarnya adalah satu kecamatan di Kabupaten Sikka dan di dalamnya ada 8 desa. Daerah yang paling terdampak dari letusan gunung selama 9 bulan terakhir ini di zona merah yaitu daerah dalam radius kurang dari 3 km dari pusat erupsi. Lokasi tersebut adalah di Desa Nitunglea (Dusun Awa, Dusun Ugo, Dusun Oka Cere), Desa Rokirole (Dusun Poa, Dusun Cawalu), dan Desa Tuanggeo (Dusun Lei, Dusun Nara), Desa Kesokoja (Dusun Wolondopo), dan Kp. Ona. Penduduk yang berada di daerah ini diharapkan untuk mengungsi ke tempat yang aman karena statusnya masih siaga.

Walaupun sudah ada himbauan untuk mengosongkan pulau, masih ada sebagian orang lansia yang tidak mau pindah dengan sendirinya ada beberapa keluarga juga yang tidak pindah karena menjaga para lansia tersebut. Selain itu juga sebagian anak-anak sekolah. Letusan gunung ini hanya menganggu 3 sekolah dari 12 sekolah dasar yang ada di kecamatan tersebut. Oleh karenanya banyak anak sekolah yang masih tinggal di pulau. Anak-anak yang mengungsi masuk pada sekolah-sekolah yang berada di dekat lokasi pengungsian mereka. Demikian juga guru-guru mereka juga masuk ke sekolah tersebut sehingga anak-anak yang masih kecil tetap diajar oleh guru yang sama.

Relokasi di Kabupaten Ende, berdasarkan koordinasi dengan Romo Sipri akan diupayakan di lokasi yang menyebar dengan menyisipkan para pengungsi ke pemukiman warga yang sudah ada. Hal ini dilakukan dengan harapan tidak muncul permasalahan eksklusif dan kecemburuan social antara masyarakat pendatang dan masyarakat setempat. Strategi ini diharapkan bisa diterapkan berdasarkan pembelajaran dari kasus konflik di Lampung. Konflik antara masyarakat Lampung dan Masyarakat dari Bali yang merupakan korban meletusnya gunung Agung kemudian ditransmigrasikan ke Lampung pada satu lokasi yang sama.

Sementara strategi di Kabupaten Sikka berdasarkan informasi dari Kepala BPBD (plt) , relokasi akan dilakukan pada 3 lokasi yang sama di daerah Hewuli, Patisomba, Wuring. Ketiga lokasi ini ada yang luasnya 4 ha, 5 ha dan 9 ha. Luas daerah tersebut diperuntukan bagi 375 KK (kepala keluarga) sehingga hanya cukup untuk pemukiman. Oleh karenanya masih menyisakan permasalahan lahan pertanian untuk mereka karena sebagian besar adalah petani. Oleh karenanya relokasi di Kabupaten Sikka harus dimatangkan lagi. Proses relokasi ini nanti akan melibatkan peran aktif Forum PRB Kabupaten Sikka yang sudah terbentuk pada tahun 2008.

Sejarah Letusan Gunung Rokatenda

Gunung Rokatenda ternyata mempunyai sejarah yang panjang. Gunung ini aktif dan meletus beberapa kali dari tahun 1928, 1966, 1972, 1973, 1981, 1984, 1984, 2008, 2009 dan 2012. Penduduk yang tinggal di Kecamatan Palue berdasarkan data pemerintah daerah Kabupaten Sikka adalah 10.622 orang, terdiri dari laki-laki 4.887 Jiwa dan perempuan 5.735 Jiwa. Penduduknya tersebar di 8 desa berikut: Desa Maluriwu, Desa Reruwairere, Desa Tuanggeo, Desa Ladolaka, Desa Kesekoja, Desa Lidi, Desa Rokirole dan Desa Nitunglea. Berdasarkan hal tersebut, masyarakat Pulau Palue sudah terbiasa dengan letusan gunung tersebut. Dan sebagian ternyata pada tahun 80-an sudah direlokasi, tapi ternyata ada yang menjual rumah yang didapat tersebut. Hal ini harus menjadi pembelajaran dalam kegiatan relokasi pada tahun ini agar tidak menimbulkan permasalahan yang sama.

Program emergency response fund

Humanitarian forum Indonesia bekerjasama dengan Caritas Maumere melakukan 5 kegiatan untuk masyarakat Palue, baik yang berada di pengungsian maupun tidak, yaitu : Manajemen pengungsian, Food security : Food dan non-food item, Sistem peringatan dini menggunakan radio komunikasi , Wash: air bersih dan sanitasi serta pendidikan dan psikososial untuk anak-anak dalam emergency. Program ini akan dilakukan dari 25 Juni – 25 Desember 2013. Kegiatan- kegiatan yang dilakukan diharapkan bisa membantu meringankan masyarakat yang mengungsi ketika dalam proses transisi mau relokasi ke tempat yang lebih baik.

Tag:

Related Images

  • Cerita Pengungsian di Maumere Akibat Letusan Rokatenda, NTT

Post Rating

There are gold and diamonds that have to caiso replica watches be earned, and it is rolex replica uk still very interesting to say that the replica watch table that embodies the taste of men has rolex replica watches either gold or diamonds.